banner blog aing

MAI APOLOJES

Setelah Vakum Selama Hampir Empat Tahun, Theosopher Hadir Kembali Dengan Artikel-Artikel Segar (:

WESTERN PHILOSOPHY

Menawarkan Beberapa Artikel Tentang Perkembangan, Tokoh Atau pun Pemikiran Pada Zamannya.

RELIGIOUS STUDIES

Kumpulan Beberapa Tulisan Yang Berkenaan Dengan Agama Dunia Serta Cara Pandang Disiplin Ilmu Umum.

TUMBLR

About Reality: Kumpulan Kata Bajak, Keluhan Pemirsah, Serta Kumpulan Cerita Pendek Sependek-pendeknya.

KRISTEN:AGAMA DAN DOKTRIN PAULUS

Bagaimana dan Apa Saja Peran Paulus Terhadap Agama Kristen ???.

Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Other. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Dua Keinginan

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.
 
Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman -- berhati-hati tidak menyentuh apapun -- sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.
Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan, "Menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau masuk istana ini? Apa yang kau inginkan? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. Enyahlah kamu, kalau tidak, kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!"
 
Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, "Akulah kematian, berdiri dan membungkuklah kepadaku."
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika pekerjaanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kuat seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri oleh taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku bergetar menatap sayap-sayapmu yang menjijikan dan tubuhmu yang memuakkan."
 
Setelah diam beberapa saat dan tersadar dari ketakutannya, ia menambahkan, "Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, karena rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang dari budak, dan tinggalkanlah diriku... Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir, cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkan diriku sendirian."
Sang Maut itu menggeram, engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak tahu diri. Kemudian Maut mengambil tangan orang itu, mencabut kehidupannya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk memeriksanya.
 
Dan maut berjalan perlahan di antara orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling kumuh yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, "Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku."
"Aku telah memanggilmu berulang kali, namun kau tak mendengarkan. Tapi kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan peng-elakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih."
Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang -- ke dunia -- dan dalam bisikan ia berkata, "Hanya mereka yang di dunia mencari Keabadian-lah yang sampai ke Keabadian itu."
 
(dari "Kelopak-Kelopak Jiwa" - Gibran Khalil Gibran)

Selasa, 29 November 2011

Pasar Agama

Pembaca sekalian, perkenalkan namaku Andi van Wallen. Umurku 20 tahun, dan sekarang belajar di salah satu universitas ternama di Amsterdam. Bapakku orang Belanda, seorang direktur di sebuah perusahaan farmasi. Ibuku orang Ambon, yang sudah sejak tahun 60-an telah menetap di Belanda. Secara resminya aku masih menjadi bagian dari agama Kristen. Tetapi sebagaimana mayoritas orang Kristen di negeri ini, mereka datang ke gereja Cuma tiga kali seumur hidup mereka, sewaktu lahir (baptis), sewaktu menikah, dan sewaktu meninggal.

Liburan sekolah ini aku bingung mau kemana, aku sudah bosan sebenarnya tiap tahun pergi ke Ibiza, St. Tropez, Costa Brava, ataupun Texel. Semakin lama koq kurasakan agak monoton, berkumpul beramai-ramai dengan kawan2ku, minum bir, bergoyang semalam suntuk, flirting, dan akhirnya one night stand. Memang menyenangkan, tapi kurasa tahun ini aku membutuhkan sesuatu yang lain. Perjalanan fisikku kurasa sudah cukup baik, negeri ini membolehkanku untuk bereksperimen dalam sex dan cinta. Tapi kurasa ada yang kadang salah dalam hal itu, maksudnya bahwa sex itu banyak dijadikan tujuan, dan bukannya alat dalam mencapai kebahagiaan. Untung aku tidak menjadi salah satu yg salah kaprah itu. Yang pasti, aku menjadi ingin tahu hal-hal lain yang selama ini tidak kuketahui. Akhir2 ini, banyak kejadian yang menyentakkan hatiku, semakin banyak dijalan2 wanita2 yang menutupi seluruh tubuhnya bahkan sampai mukanya, Theo van Gogh dibunuh di tepi jalan dengan tusukan2 mematikan, anak muda teriak-teriak di depan Central Station menganjurkan orang untuk kembali kepada Tuhan Yesus. Semua itu katanya orang-orang demi agama.

Maka liburan ini aku sudah mantap untuk pergi ke pasar agama. Aku ingin mengetahui apa saja yang ada di sana, sehingga siapa tahu aku bisa membeli salah satu diantaranya. Paling tidak aku ada pegangan, kalau-kalau aku terjerembab dalam depresi atau kesulitan. Katanya orang-orang sih paket2 yang ditawarkan oleh stan2 agama itu tidak ada yang mahal, semuanya murah-murah. Hanya yang pasti ketika sudah membeli paket, biasanya persyaratannya adalah untuk memakai paket yang kita beli untuk selamalamanya. Di depan pasar, aku sudah langsung terkagum-kagum. Pasar ini sangat ramai, jauh lebih ramai dari segala pasar yang pernah aku temui. Bahkan di tengah keramaian itu, semakin banyak pula yang datang tiap waktunya, yang berbarengan dengan aku saja, yang kebetulan satu tram, serombongan besar pemuda-pemudi berpakaian modis. Dan tram-tram ini datang tiap 5 menit sekali dari pagi buta sampai menjelang malam. Dan yang juga aku heran, jarang orang yang meninggalkan pasar itu, sehingga aku yakin, hari ini pasti pasar akan penuh sesak oleh manusia-manusia dari segala penjuru. Aku segera merasuk di antara orang-orang yang ada dipasar itu. Aku agak hati-hati dengan menempatkan dompetku di saku depan, karena pasar ini sangat terkenal dengan keganasan pencopetnya.

“ Yahudi, saudara2 sekalian. Umat2 terpilih, satu2nya umat dimana Tuhan mendelegasikan wewenangnya dan sebagian besar kebijaksanaannya. Tapi maaf saudaraku, hanya yang berdarah Yahudi yang bisa memeluk agama ini. Syaratnya cukup berat saudara untuk menjadi Yahudi, makanan anda harus semua kosher, semua ritual2 harus terlaksana mulai dari bar mitzwah sampai Hanukah.“
“Kristen, Kristen, hayo bapak ibu dan saudara2 sekalian, belilah agama Kristen. Beli Kristen dapat hadiah, surga yang nikmat dan indah. Kristus telah digantung di atas tiang salib, demi menebus dosa kita, dosa turunan dari Bapak dan Ibu kita, Adam dan Hawa. Menjadi Kristen gampang sekali saudara2 sekalian, ada dua paket utama : Protestan dan Katolik, tapi kami juga menawarkan paket2 kecil lain. Jangan khawatir, paket ini jumlahnya ada ribuan, dari Mormon, Scientology, Advent, sampai Yehova. Semua hadir untuk anda, wahai gembala2 Tuhan yang terkasih.”
“Islam, Islam, hayo saudara2 sekalian. Belilah paket Islam yang lengkap dan sempurna. Paket Islam adalah rahmat bagi semesta alam, paket lengkap yang membahagiakan seluruh makhluk hidup dari malaikat hingga manusia. Paket Islam tidak banyak2, hanya ada tiga jenis paket besar : Sunni, Syiah, dan Ibadi. Hanya dengan mengucapkan kalimat syahadat, Islam anda sudah syah. Tapi ingat saudara2, anda tidak boleh makan babi, Tuhan melarangnya. Yang perempuan juga harus pakai jilbab, demi menjaga kehormatan.’
‘Jaini, Jaini, agama yang telah menjadi inspirator utama seorang pahlawan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Jaini saudaraku, dengan ahimsanya, telah menghasilkan Gandhi, Nelson Mandela, dan Martin Luther King. Kita harus meninggalkan keduniawian saudaraku, karena keduniawian membuat kita tidak bahagia. Semua makhluk berhak hidup, oleh karena itu tidak satupun dari kita punya hak untuk melukai makhluk-makhluk hidup itu.’
Wah, wah , tawaran paket yang macam-macam. Aku sampai bolak-balik untuk melihat-lihat dan mendengar ocehan para penjual itu. Aku mendengarkan dengan seksama, kadang2 sampai hampir satu jam aku berada di satu stan. Cukup menyenangkan ternyata berada di antara penjual-penjual itu. Taktik marketing yang agresif persuasif ternyata sangat menarik bagi sebagian besar pengunjung pasar ini. Bahkan untuk membeli paket, mereka terpaksa harus antri berlama-lama.
“ Hindu, Hindu, mari2 bapak2, ibu2, adik2 sekalian. Paket Hindu adalah paket lepas yang sangat flexibel, masing2 akan melekat menjadi satu kesatuan. Tuhan adalah satu, tapi mengejawantah dalam trinitas Brahma, Syiwa dan Wisnu, tapi anda boleh menyembah ratusan ribu tuhan kecil dan dewa2 sesuai dengan keinginan anda. Sapi adalah representasi dari ibu segala ibu, dan karena itu kita tidak boleh menjadikannya santapan. ‘
Wah wah, asyik juga agama Hindu ini. Kalau umat Yahudi tadi umat dipilih Tuhan, di Hindu, umat yang malah memilih Tuhan. Aku terus saja berjalan, orang2 lalu lalang bertransaksi, stan yang paling rame ternyata stan Kristen dan Islam, gile bener, sampai antriannya panjang gak ketulungan. Stan Hindu juga cukup panjang, tapi aneh juga yang antri di stan Hindu ini kebanyakan semua orang2 kumuh berkulit gelap. Lama juga aku berjalan bolak-balik di pasar. Aku coba banding2kan harganya, kelengkapan paketnya, keindahan bungkusnya, dan sebagainya. Semua bilang yang baik2 sih, yang nomer satu, kayak jualan kecap. Mana mau ada yang ngaku kecap nomer 2.

Liburan sehari yang menyenangkan tapi sekaligus membingungkan. Aku bingung, Tuhan yang bernama Allah ketakutan sama babi, yang bernama Widi Wasa ketakutan sama sapi. Tuhan yang bernama Waheguru melarang pembunuhan binatang, semutpun dilarang, yang bernama Allah malah menganjurkan membunuh kambing, sapi, dan unta, jutaan ekor setiap tahunnya menemui ajal karena perintah itu. Mayoritas stan mengklaim membawa produksi Tuhan, tapi ada dua stan yang menurutku aneh, stan Budha dan Jaini. Dua stan ini tidak menyebut nama Tuhan sama sekali, malah stan Jaini mengingkari adanya Tuhan, menganggap Tuhan malah hanya banyak menimbulkan masalah daripada memecahkan masalah. Mayoritas stan bilang, Tuhan semua manusia itu satu, tapi kalau satu kenapa perintahnya lain-lain. Kalau namanya lain sih gak masalah, karena itu hanya masalah bahasa, tapi kalau perintahnya lain, itu yg aneh. Ataukah Tuhan sekarang juga plin-plan gak punya pendirian, wah gak tau juga. Tuhan mungkin juga terjebak dalam pragmatisme oportunistis ala politikus.

Sewaktu aku lagi asyik-asyiknya bermain dengan pikiranku sendiri memikirkan keanehan-keanehan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakanteriakan. Ada banyak suara wanita dan anak-anak minta tolong. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan, dar der dor. Orang-orang berhamburan lari kemana-mana, dan suara raungan mobil polisi juga tak ketinggalan menambah kebisingan dan kericuhan suasana. Tapi dasarnya aku tak terlalu takut dengan keributan, sudah terbiasa demonstrasi dan juga sekaligus terbiasa dikejar-kejar tentara dan polisi. Aku mendekati arah dari teriakan-teriakan itu. Di kerumunan itu aku menyeruak, langsung kumulai mencium bau anyir darah, dan tak lama kemudian kulihat beberapa orang tergeletak berlumuran darah. Sementara kerumunan mengelilingi mereka, tanpa berani mencoba menjamah orang-orang yang bergelimpangan itu. Mereka rupanya masih menunggu polisi yang memang sudah terdengar sirinenya. Tetapi tiba-tiba dari arah berlawanan denganku seseorang dengan peci dan jubah putih, ke tengah dan menuding-nuding. ‘Kalian orang-orang kafir, kalian telah membunuh saudara-saudara kami. Kaum Yahudi dan Kristen keparat, kalian tidak akan pernah berhenti mengganggu kami sampai kami lenyap dari muka bumi.’ Aku segera melihat ke sekeliling, aku lihat memang banyak diantara yang bergelimpangan itu sepertinya sepaham sama bapak yang menuding-nuding itu. Tiba-tiba dorrrrrrrrrr, bapak yang di tengah2 kerumunan itupun roboh dengan darah di pelipisnya. Sepertinya sebutir peluru telah menembus batok kepalanya. Aku jadi ketakutan sendiri, secepat kilat aku segera menyingkir dari situ, mencari aman pikirku, daripada malah bisa jadi tersangka disaat diriku tidak tahu apa-apa. Tidak biasanya aku ketakutan seperti ini, tapi karena mungkin kali ini musuhnya tidak jelas, kalau aku demonstrasi musuhnya biasanya jelas, pemerintah dan militer. Aku segera beralih ke bagian pasar yang agak jauh, dengan sedikit berlari aku ingin segera menjauh dari tempat kericuhan tadi. Terengah-engah aku, tapi ternyata aku salah, di bagian lain juga sedang terjadi keributan. Kali ini keributan terjadi di stan Kristen, tapi yang aneh justru keributan itu diantara mereka sendiri. Antara yang menjual paket saling bersaing, mungkin karena paket yang ditawarkan terlalu banyak, sehingga menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Aku segera berlari lagi, untung di sebelah sana kulihat pintu keluar dari pasar. Segera kumenuju kesana. Setelah sampai di pintu keluar, dengan gontai aku pergi menjauh dari pasar.

Liburan yang awalnya menyenangkan berubah menjadi mengerikan, aku telah menjadi saksi penjagalan manusia oleh manusia lainnya. Demikianlah pembaca, pengalamanku selama liburan musim panas kemarin. Sekarang Amsterdam sudah mulai hujan, dan sebentar lagi akan musim gugur. Aku memang tidak jadi membeli paket apapun selama jalan2 di pasar itu, tapi aku hanya berharap semoga keributan di pasar itu berhenti.

Dikutip dr buku: Agama Yakrislam

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More